ABSTRACK
At this
point we talked about that the Earth is undergoing a "pain" or called
with global warming. Human behavior that many exploit natural resources without
having to upgrade it, the pattern of life which many rely will be technology
that gives it impact is not good for our Earth. The cause of smoke pollution
from the factories, the use of paper that is very high in the world of offices,
which make paper spent much of the trees which is a producer of oxygen and
absorbing carbon dioxide, or other industrial or business activities in which
the use of raw materials drawn from nature, then keep exploited natural
resources are very limited without update it, being one of the causes of the
severity of global warming. As businessmen we must be scrupulous, witty and
wise, how we do business and yet still be able to maintain stability and does
not damage the environment. The solution is to implement a process
business-friendly environment.
A. Apa itu proses bisnis Ramah lingkungan
Setelah sebelumnya saya membahas
mengenai bagaimana proses bisnis dan beberapa contoh dari proses bisnis maka
sekarang kita akan membahas mengenai proses bisnis yang menyangkut isu yang
banyak diperbincangkan pada saat ini yaitu proses bisnis yang ramah akan
lingkungan.
Proses bisnis ramah lingkungan
merupakan proses bisnis yang dalam prosesnya tidak hanya melakukan bisnis
dengan memikirkan keuntungan semata tetapi juga menjaga kestabilan lingkungan
dan menggunakan bahan, produk atau alat yang ramah lingkungan. Karena keadaan bumi yang semakin
tidak bersahabat , maka dibuat peraturan baru dan inovasi-inovasi dalam upaya
menyembuhkan atau setidaknya tidak memperburuk global warming saat ini. Pada tahun 1972, PBB menyelenggarakan konferensi
tentang lingkungan hidup (United Nation Conference on the Human Environment)
di Stokholm. Isunya ialah kerusakan lingkungan hidup (bahan kuliah Falsafah
Sains; IPB Sjafri Mangkuprawira). Selanjutnya diterbitkannya laporan WCED (World
Commission on Environment and Development) berbeda dengan konfrensi
PBB tahun 1972, dalam laporan WCED ini lingkungan hidup bukan isu
utamanya, melainkan merupakan bagian pembangunan berkelanjutan, yaitu: Pertama, harus meningkatkan
potensi produksi dengan cara yang ramah lingkungan hidup; Kedua, menjamin terciptanya
kesempatan yang merata dan adil bagi semua orang. Melihat banyaknya sumber daya
yang telah diexploitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia dan pembangunan
sendiri, konsep pembangunan yang berkelanjutan merupakan alternatif terbaik
saat ini. Dalam perkembangannya maka kini dikenal istilah green economy atau ekonomi
hijau (EH) khususnya dalam dunia bisnis. Dalam Peraturan Pemerintah
No.102 Tahun 2000 Tentang Standarisasi Nasional disebutkan bahwa salah satu
tujuan standarisasi nasional adalah meningkatkan perlindungan konsumen, pelaku
usaha dan masyarakat untuk keselamatan, kesehatan maupun pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
B.
Bagaimana proses bisnis yang ramah
lingkungan
Dalam proses bisnis yang ramah lingkungan, kegiatannya harus memiliki
kriteria pentingnya menempatkan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap
keputusan bisnisnya, proses produksi dan produk-produknya harus memiliki
ciri-ciri ramah lingkungan menjadi salah satu kriteria kemampuan daya saing
bisnis. Daya saing ini tidak hanya sebatas pada ketersediaan modal teknologi
dan modal alam saja namun juga modal sumber daya manusia.
Menurut Anjar Priyono dalam Jurnal siasat bisnis, April 2008 menyatakan
:
“Fase-fase produksi memiliki peran kritis
untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan oleh perusahaan benar-benar ramah
lingkungan, pencegahan polusi sejak dari awal proses dilakukan melalui proses
proses produksi ramah lingkungan, praktek produksi ramah lingkungan, re-use dan
recycling material, minimalisasi peng-gunaan material, persentase
kandungan produk yang dapat didaur ulang ditingkat-kan, proses produksi
dioptimalkan untuk mengurangi limbah berbahaya, dan pen-desainan ulang produk
agar lebih ramah lingkungan.”
Mungkin dalam benak kita jika berfikir mengenai suatu bisnis
yang ramah lingkungan, maka keuntungan akan jauh lebih sedikit, susahnya
peluang dan juga inovasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan bisnis ramah
lingkungan. Kondisi bumi yang semakin tidak bersahabat, perubahan cuaca yang
sangat ekstrem serta banyaknya bencana alam yang semakin buruk belakangan ini,
membuat masyarakat yang juga merupakan target konsumen menjadi tersadarkan
untuk mengganti kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih “green”. Dengan
situasi ini maka, dapat dijadikan suatu peluang
baru bagi suatu bisnis.
Menurut Menurut Julie
Urlaub, Managing Partner Taiga Company, “konsep ramah lingkungan
(green) kini tidak lagi menjadi sebuah gerakan biasa namun sudah menjadi
tuntutan pasar. Jika kita bisa cerdas memanfaatkannya, tren “green” ini bisa
menjadi peluang bisnis yang menguntungkan bagi para pemimpin perusahaan”.
"Pemasaran berwawasan lingkungan
telah menjadi tren dalam dunia bisnis modern" (Kassaye, 2001).
Untuk
menandai bahwa bisnis yang dijalani merupakan bisnis yang ramah lingkungan maka
pada produk yang kita hasilkan, kita menyertakan ekolabel didalamnya. Ekolabel
adalah label atau tanda yang ditempelkan pada suatu produk atau kemasannya yang
berfungsi memberi informasi kepada konsumen bahwa produk tersebut telah
memenuhi standar kriteria ekolabel, sehingga dalam daur hidupnya menimbulkan
dampak lingkungan negatif yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan produk
lain sejenis yang tidak bertanda ekolabel. Dengan
menggunakan konsep ramah lingkungan pada proses bisnis yang kita jalani, selain
menjadikan suatu peluang baru bagi bisnis kita juga membantu dalam menjadikan
bumi kita menjadi lebih baik lagi untuk kita tempati.
Seperti kata pepatah bukan? Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.
Jika bisnis kita bukan
merupakan bisnis dalam menghasilkan suatu produk, maka tidak menutup
kemungkinan kita untuk tetap melakukan bisnis yang berstrategi “hijau”. Berikut beberapa strategi yang perlu diterapkan untuk mengurangi
biaya dan menambah nilai perusahaan dan tetap melaksanakan ekonomi hijau :
1.Konsumsi
energi di gedung atau perkantoran – Banyak perusahaan yang kini tengah mengevaluasi besaran
pemakaian energi rata-rata per meter persegi dan menerapkan langkah-langkah
terbaik untuk menguranginya melalui penelitian konsumsi energi, penerapan
langkah efisiensi, modifikasi peralatan, dsb.
2.Sarana
transportasi pegawai – Beberapa contoh
inisiatifnya berupa pemberian insentif bagi pekerja yang mau mennggunakan
angkutan umum untuk pergi ke kantor dan menggelar program berbagi tumpangan
(car/van pooling).
3.Sarana
telekomunikasi pegawai – Insentif
telekomunikasi ini bisa diberikan sebagai ganti biaya sewa ruang dan
transportasi pekerja yang tidak hanya bermanfaat bagi pegawai dan perusahaan,
juga bagi lingkungan.
4.Efisiensi
operasional – Perusahaan
mulai menerapkan proses penghematan energi dalam operasionalnya sehari-hari.
Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengevaluasi tingkat konsumsi
energi pada saat jam sibuk dan mengurangi waktu pemakaian energi pada waktu
tenggang (off-hour usage).
5.Mengurangi
penggunaan kertas – Perusahaan bisa
mengurangi pemakaian kertas dengan memanfaatkan sistem telekomunikasi
elektronik dan menset printer memakai ukuran kertas yang sama.
6.Sistem daur ulang – Praktik daur ulang umum dilakukan oleh perusahaan yang sudah memraktekkan sistem pengelolaan lingkungan seperti sistem manajemen limbah.
6.Sistem daur ulang – Praktik daur ulang umum dilakukan oleh perusahaan yang sudah memraktekkan sistem pengelolaan lingkungan seperti sistem manajemen limbah.
7.
Kemasan yang ramah lingkungan – Harga produk
bisa dipangkas dengan sistem pengemasan yang makin efisien dan ramah
lingkungan.
8.
Mengurangi polusi lingkungan –
Perusahaan kini semakin aktif mengurangi efek gas rumah kaca melalui penerapan
teknologi yang makin efisien dan canggih.
C.Contoh penerapan Proses bisnis
ramah lingkungan
1. Bisnis recycle sampah anorganik plastik, minyak
dan oli bekas menjadi BBM seperti solar, kerosine (minyak tanah) dan bahkan
menjadi plastik lagi. Bisnis recycle sampah anorganik logam seperti besi dan
kaleng-kaleng logam bekas untuk diolah menjadi besi dan logam kembali.
2. Bisnis recycle sampah organic yg cepat busuk spt
makanan bekas, minuman bekas, yang menghasilkan bau yang dapat diolah
menghasilkan gas untuk bahan bakar atau ditimbun untuk menjadi pupuk organik.
3. Bisnis konstruksi Tempat Penimbunan Akhir Sampah
yang luas, sangat efisien, ramah lingkungan dan terintegrasi dengan teknologi
pendaurulangan sampah menjadi pupuk, energi terbarukan, dan BBM dari sampah.
4. Bisnis mobil dan kenderaan yang ramah lingkungan
seperti Hybrid Car yg menggunakan setengah tenaga listrik dan setengah tenaga
BBM. Atau murni mobil atau kenderaan listrik listrik seperti motor listrik dan
kereta api listrik yang murni menggunakan energi listrik sebagai sumber
geraknya. Serta bisnis Stasiun Pengisian Bahan bakar Listrik (SPBL) nya
sendiri.
5. Bisnis penyediaan suplai listrik dari Pembangkit
Listrik Tenaga (Gelombang) Angin yang diambil dari baling-baling di daerah yang
kaya dengan angin untuk menggerakkan baling-baling tersebut yang memutar turbin
untuk menghasilkan energi terbarukan.
6. Bisnis konstruksi rumah dan gedung yang ramah
lingkungan dan hemat energi. Dengan menyediakan ruang-ruang yang terbuka atau
tambahan instrumen alamiah (spt rumput di atap) untuk menjaga kehangatan
ruangan yang mencegah pemanfaatan tenaga pendingin berlebih serta memiliki
penerangan alamiah yang cukup dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya/Matahari
(PLTS). Air panas utk minum dan mandi juga berasal dari PLTS tersebut sehingga
dapat menghemat energi dengan sangat signifikan.
7. Bisnis
penyediaan instrumen dan alat Pembangkit Listrik Tenaga Surya beserta cell
battery serta gudang penyimpan baterainya yang terhubung ke sirkuit listrik
rumah baik fasilitas keluarga, fasilitas makan/minum, dan fasilitas mandi.
8. Bisnis pariwisata Indonesia. Dengan mempercantik
taman-taman di perkotaan, menjaga tingkat polusi perkotaan, memperindah
jalan-jalan ke daerah terpencil, memperkaya kota dan desa dengan pepohonan dan
tanaman khas Indonesia, menjaga kebersihan dan kesehatan air sungai, danau, dan
pantai, serta menyediakan fasilitas tour guide yang mengenal dan melestarikan
kekayaan alam alami daerah untuk menarik wisatawan lokal dan luar negeri untuk
berwisata di Indonesia tercinta ini.
REFERENCES
1. www.alpensteel.com/article/55-114-artikel-non-energi/502--bisnis-yang-ramah-lingkungan.html
2. The Study of Product Ecolabel Implementation In Indonesia oleh Suminto-Pusat Penelitian dan Pengembangan Standardisasi – BSN dalam Jurnal Standardisasi Vol. 13, No. 3 Tahun 2011: 201 - 206
3. KARAKTERISTIK KONSUMEN BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEPUTUSAN MEMBELI PRODUK RAMAH LINGKUNGAN oleh Setyo Ferry Wibowo dalam Econosains Volume IX, Nomor 2, Agustus 2011
4.Bahan Bangunan yang Ramah Lingkungan oleh Indira Shita Siagian dalam e-USU Repository,2005



