Wednesday, November 14, 2012

ECO-FRIENDLY BUSINESS PROCESS

ABSTRACK
At this point we talked about that the Earth is undergoing a "pain" or called with global warming. Human behavior that many exploit natural resources without having to upgrade it, the pattern of life which many rely will be technology that gives it impact is not good for our Earth. The cause of smoke pollution from the factories, the use of paper that is very high in the world of offices, which make paper spent much of the trees which is a producer of oxygen and absorbing carbon dioxide, or other industrial or business activities in which the use of raw materials drawn from nature, then keep exploited natural resources are very limited without update it, being one of the causes of the severity of global warming. As businessmen we must be scrupulous, witty and wise, how we do business and yet still be able to maintain stability and does not damage the environment. The solution is to implement a process business-friendly environment.



A. Apa itu proses bisnis Ramah lingkungan

Setelah sebelumnya saya membahas mengenai bagaimana proses bisnis dan beberapa contoh dari proses bisnis maka sekarang kita akan membahas mengenai proses bisnis yang menyangkut isu yang banyak diperbincangkan pada saat ini yaitu proses bisnis yang ramah akan lingkungan.
Proses bisnis ramah lingkungan merupakan proses bisnis yang dalam prosesnya tidak hanya melakukan bisnis dengan memikirkan keuntungan semata tetapi juga menjaga kestabilan lingkungan dan menggunakan bahan, produk atau alat yang ramah lingkungan. Karena keadaan bumi yang semakin tidak bersahabat , maka dibuat peraturan baru dan inovasi-inovasi dalam upaya menyembuhkan atau setidaknya tidak memperburuk global warming saat ini. Pada tahun 1972, PBB menyelenggarakan konferensi tentang lingkungan hidup (United Nation Conference on the Human Environment) di Stokholm. Isunya ialah kerusakan lingkungan hidup (bahan kuliah Falsafah Sains; IPB Sjafri Mangkuprawira). Selanjutnya diterbitkannya laporan WCED (World Commission on Environment and  Development) berbeda dengan konfrensi PBB tahun 1972, dalam laporan WCED ini lingkungan hidup bukan  isu utamanya, melainkan merupakan bagian pembangunan berkelanjutan, yaitu: Pertama, harus meningkatkan potensi produksi dengan cara yang ramah lingkungan hidup; Kedua, menjamin terciptanya kesempatan yang merata dan adil bagi semua orang. Melihat banyaknya sumber daya yang telah diexploitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia dan pembangunan sendiri, konsep pembangunan yang berkelanjutan merupakan alternatif terbaik saat ini. Dalam perkembangannya maka kini dikenal istilah green economy atau ekonomi hijau (EH) khususnya dalam dunia bisnis. Dalam Peraturan Pemerintah No.102 Tahun 2000 Tentang Standarisasi Nasional disebutkan bahwa salah satu tujuan standarisasi nasional adalah meningkatkan perlindungan konsumen, pelaku usaha dan masyarakat untuk keselamatan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup.


B.    Bagaimana proses bisnis yang ramah lingkungan

Dalam proses bisnis yang ramah lingkungan, kegiatannya harus memiliki kriteria pentingnya menempatkan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap keputusan bisnisnya, proses produksi dan produk-produknya harus memiliki ciri-ciri ramah lingkungan menjadi salah satu kriteria kemampuan daya saing bisnis. Daya saing ini tidak hanya sebatas pada ketersediaan modal teknologi dan modal alam saja namun juga modal sumber daya manusia.
Menurut Anjar Priyono dalam Jurnal siasat bisnis, April 2008 menyatakan :
Fase-fase produksi memiliki peran kritis untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan oleh perusahaan benar-benar ramah lingkungan, pencegahan polusi sejak dari awal proses dilakukan melalui proses proses produksi ramah lingkungan, praktek produksi ramah lingkungan, re-use dan recycling material, minimalisasi peng-gunaan material, persentase kandungan produk yang dapat didaur ulang ditingkat-kan, proses produksi dioptimalkan untuk mengurangi limbah berbahaya, dan pen-desainan ulang produk agar lebih ramah lingkungan.
Mungkin dalam benak kita jika berfikir mengenai suatu bisnis yang ramah lingkungan, maka keuntungan akan jauh lebih sedikit, susahnya peluang dan juga inovasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan bisnis ramah lingkungan. Kondisi bumi yang semakin tidak bersahabat, perubahan cuaca yang sangat ekstrem serta banyaknya bencana alam yang semakin buruk belakangan ini, membuat masyarakat yang juga merupakan target konsumen menjadi tersadarkan untuk mengganti kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih “green”. Dengan situasi ini maka, dapat dijadikan suatu peluang  baru bagi suatu bisnis.
Menurut Menurut Julie Urlaub, Managing Partner Taiga Company, “konsep ramah lingkungan (green) kini tidak lagi menjadi sebuah gerakan biasa namun sudah menjadi tuntutan pasar. Jika kita bisa cerdas memanfaatkannya, tren “green” ini bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan bagi para pemimpin perusahaan”. 
"Pemasaran berwawasan lingkungan telah menjadi tren dalam dunia bisnis modern" (Kassaye, 2001).
Untuk menandai bahwa bisnis yang dijalani merupakan bisnis yang ramah lingkungan maka pada produk yang kita hasilkan, kita menyertakan ekolabel didalamnya. Ekolabel adalah label atau tanda yang ditempelkan pada suatu produk atau kemasannya yang berfungsi memberi informasi kepada konsumen bahwa produk tersebut telah memenuhi standar kriteria ekolabel, sehingga dalam daur hidupnya menimbulkan dampak lingkungan negatif yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan produk lain sejenis yang tidak bertanda ekolabel. Dengan menggunakan konsep ramah lingkungan pada proses bisnis yang kita jalani, selain menjadikan suatu peluang baru bagi bisnis kita juga membantu dalam menjadikan bumi kita menjadi lebih baik lagi untuk kita tempati. Seperti kata pepatah bukan? Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.
Jika bisnis kita bukan merupakan bisnis dalam menghasilkan suatu produk, maka tidak menutup kemungkinan kita untuk tetap melakukan bisnis yang berstrategi “hijau”. Berikut beberapa strategi yang perlu diterapkan untuk mengurangi biaya dan menambah nilai perusahaan dan tetap melaksanakan ekonomi hijau :  
1.Konsumsi energi di gedung atau perkantoran – Banyak perusahaan yang kini tengah mengevaluasi besaran pemakaian energi rata-rata per meter persegi dan menerapkan langkah-langkah terbaik untuk menguranginya melalui penelitian konsumsi energi, penerapan langkah efisiensi, modifikasi peralatan, dsb.
2.Sarana transportasi pegawai – Beberapa contoh inisiatifnya berupa pemberian insentif bagi pekerja yang mau mennggunakan angkutan umum untuk pergi ke kantor dan menggelar program berbagi tumpangan (car/van pooling).
3.Sarana telekomunikasi pegawai – Insentif telekomunikasi ini bisa diberikan sebagai ganti biaya sewa ruang dan transportasi pekerja yang tidak hanya bermanfaat bagi pegawai dan perusahaan, juga bagi lingkungan.
4.Efisiensi operasional – Perusahaan mulai menerapkan proses penghematan energi dalam operasionalnya sehari-hari. Langkah yang  bisa dilakukan adalah dengan mengevaluasi tingkat konsumsi energi pada saat jam sibuk dan mengurangi waktu pemakaian energi pada waktu tenggang (off-hour usage).
5.Mengurangi penggunaan kertas – Perusahaan bisa mengurangi pemakaian kertas dengan memanfaatkan sistem telekomunikasi elektronik dan menset printer memakai ukuran kertas yang sama.
6.Sistem daur ulang – Praktik daur ulang umum dilakukan oleh perusahaan yang sudah memraktekkan sistem pengelolaan lingkungan seperti sistem manajemen limbah.
7. Kemasan yang ramah lingkungan – Harga produk bisa dipangkas dengan sistem pengemasan yang makin efisien dan ramah lingkungan.
8. Mengurangi polusi lingkungan –  Perusahaan kini semakin aktif mengurangi efek gas rumah kaca melalui penerapan teknologi yang makin efisien dan canggih.


C.Contoh penerapan Proses bisnis ramah lingkungan
1.  Bisnis recycle sampah anorganik plastik, minyak dan oli bekas menjadi BBM seperti solar, kerosine (minyak tanah) dan bahkan menjadi plastik lagi. Bisnis recycle sampah anorganik logam seperti besi dan kaleng-kaleng logam bekas untuk diolah menjadi besi dan logam kembali.
2.  Bisnis recycle sampah organic yg cepat busuk spt makanan bekas, minuman bekas, yang menghasilkan bau yang dapat diolah menghasilkan gas untuk bahan bakar atau ditimbun untuk menjadi pupuk organik.
3. Bisnis konstruksi Tempat Penimbunan Akhir Sampah yang luas, sangat efisien, ramah lingkungan dan terintegrasi dengan teknologi pendaurulangan sampah menjadi pupuk, energi terbarukan, dan BBM dari sampah.
4.  Bisnis mobil dan kenderaan yang ramah lingkungan seperti Hybrid Car yg menggunakan setengah tenaga listrik dan setengah tenaga BBM. Atau murni mobil atau kenderaan listrik listrik seperti motor listrik dan kereta api listrik yang murni menggunakan energi listrik sebagai sumber geraknya. Serta bisnis Stasiun Pengisian Bahan bakar Listrik (SPBL) nya sendiri.
5.  Bisnis penyediaan suplai listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga (Gelombang) Angin yang diambil dari baling-baling di daerah yang kaya dengan angin untuk menggerakkan baling-baling tersebut yang memutar turbin untuk menghasilkan energi terbarukan.
6.  Bisnis konstruksi rumah dan gedung yang ramah lingkungan dan hemat energi. Dengan menyediakan ruang-ruang yang terbuka atau tambahan instrumen alamiah (spt rumput di atap) untuk menjaga kehangatan ruangan yang mencegah pemanfaatan tenaga pendingin berlebih serta memiliki penerangan alamiah yang cukup dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya/Matahari (PLTS). Air panas utk minum dan mandi juga berasal dari PLTS tersebut sehingga dapat menghemat energi dengan sangat signifikan.
7.   Bisnis penyediaan instrumen dan alat Pembangkit Listrik Tenaga Surya beserta cell battery serta gudang penyimpan baterainya yang terhubung ke sirkuit listrik rumah baik fasilitas keluarga, fasilitas makan/minum, dan fasilitas mandi.
8.  Bisnis pariwisata Indonesia. Dengan mempercantik taman-taman di perkotaan, menjaga tingkat polusi perkotaan, memperindah jalan-jalan ke daerah terpencil, memperkaya kota dan desa dengan pepohonan dan tanaman khas Indonesia, menjaga kebersihan dan kesehatan air sungai, danau, dan pantai, serta menyediakan fasilitas tour guide yang mengenal dan melestarikan kekayaan alam alami daerah untuk menarik wisatawan lokal dan luar negeri untuk berwisata di Indonesia tercinta ini.





REFERENCES
1. www.alpensteel.com/article/55-114-artikel-non-energi/502--bisnis-yang-ramah-lingkungan.html 
2. The Study of Product Ecolabel Implementation In Indonesia oleh Suminto-Pusat Penelitian dan Pengembangan Standardisasi – BSN dalam Jurnal Standardisasi Vol. 13, No. 3 Tahun 2011: 201 - 206
3. KARAKTERISTIK KONSUMEN BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEPUTUSAN MEMBELI PRODUK RAMAH  LINGKUNGAN oleh Setyo Ferry Wibowo dalam Econosains Volume IX, Nomor 2, Agustus 2011
4.Bahan Bangunan yang Ramah Lingkungan oleh Indira Shita Siagian dalam e-USU Repository,2005







No comments:

Post a Comment

leave your comment here ♥